RUMAH KELUARGA BAHAGIA

Sabtu, 04 Maret 2017

HADITS REALISASI IMAN DALAM KEHIDUPAN SOSIAL



Ø Cinta Sesama Muslim

عن أنس رضى الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:لا َيُؤْ مِنُ اَحَدُ كُمْ حَتَى يُحِبَّ لِأَ خِيْهِ ما يُحِبُّ لِنْفسِهِ (رواه البخارى ومسلم أحمد والنسائى)

Artinya: Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, “Tidak beriman salah seorang kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Ali Bukhary, Muslim, Ahmad dan Ar-Nasa’y).

o   Penjelasan Isi Hadits
Hadits di atas mempunya arti bahwa bukti keimanan yang benar adalah ketika manusia itu melihat dirinya sebagai satu sosok individu yang merupakan satu organ tersendiri dalam tubuh masyarakat. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat akan juga dirasakan olehnya dan bahaya yang menimpa masyarakat juga akan menimpa dirinya. Jika seseorang telah dapat menangkap perasaan yang jujur ini maka ia akan dapat melihat orang lain seperti dirinya sendiri.
Sehingga apa yang menjadi kesenangan orang lain adalah juga melihat kesenangannya sendiri. Dari sikap seperti ini kemudian tercipta rasa cinta kepada ilmu yang luas, akhlak yang baik, amal shahih dan lain-lain. Namun selama masih ada rasa untuk mencintai sesuatu tapi orang lain tidak mencintainya, bahkan mengirikan atau mendengki orang lain yang mendapatkan kecintaannya, maka itulah sebab tertolaknya keimanan, karena itu adalah sifat peninggalan zaman kafir dulu.

Ø Tidak Mengganggu Orang Lain

عن عبدالله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَا نِهِ وَيَدِهِ والمُحَجِرِيْنَ مَن مَجَرَمَا نَهَى الله عَنْهُ (رواه البخارى و أبو داود والنسائى)

Artinya: Dari Abdillah bin Amru, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, “Orang Muslim adalah orang yang orang-orang muslim sekitarnya merasa terjaga dari derita yang diakibatkan lisan dan tangannya, sedangkan orang muhajir adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.” (HR. Al-Bukhary, Abu Daud dan An-Nasa’y)

o   Penjelasan Isi Hadits
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang mendapat predikat islam adalah orang yang dapat menjaga orang-orang muslim maupun non-muslim yang dzimmy atau orang-orang yang berada dibawah pemerintahan muslim. Seorang muslim bukanlah orang yang suka mencaci maki, bukan orang yang suka menggibah dan mengadu domba, bukan yang menyuruh kepada yang munkar, bukan orang yang berbohong, bukan yang menipu, dan bukan pula orang yang berkata tanpa didasarkan pengetahuan. Lisannya tidak bergerak untuk mengutarakan kesombongan kepada seseorang, tapi justru semakin manis karena ucapan yang keluar adalah yang baik-baik saja. Begitu pula tangannya, seorang muslim tidak boleh menyakiti orang lain dengan tangannya.
                        Sedangkan kata Muhajir pada dasarnya tidak berhenti pada arti hijrah secara lahiriah, meninggalkan negri perang menuju negri aman, tetapi lebih dari itu meninggalkan  apa yang dilarang Allah sehingga tidak membunuh, tidak membuhuh, tidak berzina, tidak fasik, tidak bersaksi palsu, tidak meminum Khamar, tidak berlebih lebihan, tidak bersikap sok, dan sikap serta bentuk amal perbuatan yang dilarang lainnya.




Ø Menghormati Tamu, Tetangga, dan Bertutur Kata Yang Baik
عن أبي هريرة رضىالله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ كَان يُؤْمِنُ با لله وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَليُكْرِمْ ضَيْفَهُ مَن كاَنَ يُؤْمِنُ با لله وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَليُحْسِنْ اِلىَ جَارِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ با لله وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَا أو لِيَصْمُت (رواه البخارى و ابن ماجه)

Artiya: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW berkata, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari akhir hendaklah bertutur yang baik atau diam.” (HR.  Asy-Syikhany dan Ibnu Majah)

o   Penjelasan Isi Hadits
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Rasullullah menyebutkan tiga hal yang kesemuanya itu berkaitan erat dengan iman kepada Allah dan hari akhir. Ketiga hal itu adalah menghormati tamu, berbuat baik kepada tatangga dan bertutur yang baik dan diam.
1)         Menghormati tamu. Kata tamu disini tidak terbatas, bisa berarti kata tunggal dan bisa juga berarti kata jamak. “Dan kabarkan kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ketempatnya.” Menghormati tamu adalah menerimanya dengan hangat, menerimanya dengan wajah berseri, menampilkan kesan senang melihat kedatangannya, menghidangkan minuman, makanan dan segala fasilitas yang baik serta tidak membedakan pada tamu yang datang.

2)     Berbuat baik kepada tetangga. Tetangga didefinisikan sebagai siapa saja yang berada disekitarnya dan siapa saja yang hidup mengitari rumah, tanpa memperhatikan apakah ia muslim, kafir, ahli ibadah, fasik, teman, musuh, orang dekat, orang asing, orang yang rumahnya dekat dan orang yang rumahnya jauh. Perwujudan berbuat baik dengan tatangga adalah dengan melakukan apa saja yang bisa dilakuakan. Bila meeminjam maka berilah, bila meminta pertolongan maka tolonglah dan sebagainya.
3)         Bertutur kata baik atau diam. Bahagia tidaknya seseorang sebenarnya terletak pada ujung lidahnya. Bila itu diikat erat di dalam wilayah kebaikan maka ia akan menerima kebaikannya sendiri dan bisa menekan kemungkinannya berbuat kejelekan.segala perkataan yang harus atau yang sunah untuk diucapkan adalah baik, meski bentuk-bentuk dari ucapan-ucapan itu berbeda. Termasuk bentuk-bentuk yang merupakan bentukan dari ucapan-ucapan itu. Tapi sebaliknya, yang buruk atau yang merupakan bentuk dari itu, nabi memerintahkan untuk memilih diam, bila terpaksa harus mengucapkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar