Ø Cinta
Sesama Muslim
عن أنس رضى الله عن النبي صلى الله عليه وسلم قال:لا َيُؤْ مِنُ اَحَدُ
كُمْ حَتَى يُحِبَّ لِأَ خِيْهِ ما يُحِبُّ لِنْفسِهِ (رواه البخارى ومسلم أحمد والنسائى)
Artinya: Dari Anas Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam, bersabda, “Tidak beriman salah seorang kalian sehingga ia mencintai
saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Ali Bukhary, Muslim,
Ahmad dan Ar-Nasa’y).
o
Penjelasan Isi Hadits
Hadits di atas mempunya arti bahwa bukti keimanan yang benar adalah ketika manusia itu melihat dirinya
sebagai satu sosok individu yang merupakan satu organ tersendiri dalam tubuh
masyarakat. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat akan juga dirasakan olehnya
dan bahaya yang menimpa masyarakat juga akan menimpa dirinya. Jika seseorang
telah dapat menangkap perasaan yang jujur ini maka ia akan dapat melihat orang
lain seperti dirinya sendiri.
Sehingga
apa yang menjadi kesenangan orang lain adalah juga melihat kesenangannya
sendiri. Dari sikap seperti ini kemudian tercipta rasa cinta kepada ilmu yang
luas, akhlak yang baik, amal shahih dan lain-lain. Namun selama masih ada rasa
untuk mencintai sesuatu tapi orang lain tidak mencintainya, bahkan mengirikan
atau mendengki orang lain yang mendapatkan kecintaannya, maka itulah sebab
tertolaknya keimanan, karena itu adalah sifat peninggalan zaman kafir dulu.
Ø Tidak
Mengganggu Orang Lain
عن عبدالله بن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الْمُسْلِمُ مَنْ
سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَا نِهِ وَيَدِهِ والمُحَجِرِيْنَ مَن مَجَرَمَا نَهَى الله عَنْهُ (رواه البخارى و أبو داود والنسائى)
Artinya:
Dari Abdillah bin Amru, dari Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam, bersabda, “Orang Muslim adalah orang yang
orang-orang muslim sekitarnya merasa terjaga dari derita yang diakibatkan lisan
dan tangannya, sedangkan orang muhajir adalah orang yang hijrah dari apa yang
dilarang Allah.” (HR. Al-Bukhary, Abu Daud dan An-Nasa’y)
o
Penjelasan Isi Hadits
Dari hadits di atas dapat
disimpulkan bahwa orang yang mendapat predikat islam
adalah orang yang dapat menjaga orang-orang muslim maupun non-muslim yang
dzimmy atau orang-orang yang berada dibawah pemerintahan muslim. Seorang muslim
bukanlah orang yang suka mencaci maki, bukan orang yang suka menggibah dan
mengadu domba, bukan yang menyuruh kepada yang munkar, bukan orang yang berbohong,
bukan yang menipu, dan bukan pula orang yang berkata tanpa didasarkan
pengetahuan. Lisannya tidak bergerak untuk mengutarakan kesombongan kepada
seseorang, tapi justru semakin manis karena ucapan yang keluar adalah yang
baik-baik saja. Begitu pula tangannya, seorang muslim tidak boleh menyakiti
orang lain dengan tangannya.
Sedangkan kata Muhajir
pada dasarnya tidak berhenti pada arti hijrah secara lahiriah, meninggalkan
negri perang menuju negri aman, tetapi lebih dari itu meninggalkan apa yang dilarang Allah sehingga tidak
membunuh, tidak membuhuh, tidak berzina, tidak fasik, tidak bersaksi palsu,
tidak meminum Khamar, tidak berlebih lebihan, tidak bersikap sok, dan sikap
serta bentuk amal perbuatan yang dilarang lainnya.
Ø Menghormati
Tamu, Tetangga, dan Bertutur Kata Yang Baik
عن أبي هريرة رضىالله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ
كَان يُؤْمِنُ با لله وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَليُكْرِمْ ضَيْفَهُ مَن كاَنَ يُؤْمِنُ
با لله وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَليُحْسِنْ اِلىَ جَارِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ با لله
وَاليَوْمِ الأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرَا أو لِيَصْمُت (رواه البخارى و ابن ماجه)
Artiya:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia
berkata, “Rasulullah SAW berkata, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barang siapa yang beriman kepada
Allah dan hari akhir hendaklah berbuat baik kepada tetangganya. Dan barang
siapa yang beriman kepada Allah dan Hari akhir hendaklah bertutur yang baik
atau diam.” (HR. Asy-Syikhany dan Ibnu Majah)
o
Penjelasan Isi Hadits
Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Rasullullah menyebutkan tiga hal yang kesemuanya itu berkaitan erat
dengan iman kepada Allah dan hari akhir. Ketiga hal itu adalah menghormati
tamu, berbuat baik kepada tatangga dan bertutur yang baik dan diam.
1)
Menghormati tamu. Kata
tamu disini tidak terbatas, bisa berarti kata tunggal dan bisa juga berarti
kata jamak. “Dan kabarkan kepada mereka
tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ketempatnya.” Menghormati
tamu adalah menerimanya dengan hangat, menerimanya dengan wajah berseri, menampilkan
kesan senang melihat kedatangannya, menghidangkan minuman, makanan dan segala
fasilitas yang baik serta tidak membedakan pada tamu
yang datang.
2)
Berbuat baik kepada tetangga.
Tetangga didefinisikan sebagai siapa saja yang berada disekitarnya dan siapa
saja yang hidup mengitari rumah, tanpa memperhatikan apakah ia muslim, kafir,
ahli ibadah, fasik, teman, musuh, orang dekat, orang asing, orang yang rumahnya
dekat dan orang yang rumahnya jauh. Perwujudan berbuat baik dengan tatangga
adalah dengan melakukan apa saja yang bisa dilakuakan. Bila meeminjam maka
berilah, bila meminta pertolongan maka tolonglah dan sebagainya.
3)
Bertutur kata baik
atau diam. Bahagia tidaknya seseorang sebenarnya terletak pada ujung lidahnya.
Bila itu diikat erat di dalam wilayah kebaikan maka ia akan menerima
kebaikannya sendiri dan bisa menekan kemungkinannya berbuat kejelekan.segala
perkataan yang harus atau yang sunah untuk diucapkan adalah baik, meski
bentuk-bentuk dari ucapan-ucapan itu berbeda. Termasuk bentuk-bentuk yang
merupakan bentukan dari ucapan-ucapan itu. Tapi sebaliknya, yang buruk atau
yang merupakan bentuk dari itu, nabi memerintahkan untuk memilih diam, bila
terpaksa harus mengucapkannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar