Di makamkan di bawah batu
konstantinopel
Sahabat Nabi yang mulia ini bernama
Khalid bin Zaid bin Kulaib, dari Bani Najjar. Julukannya adalah Abu Ayyub
Al-Anshari.
Allah mengharumkan namanya di timur dan
di barat dan mengangkat derajatnya diatas makhluk-makhluk Nya yang lain ketika
Dia memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara bagi Nabi yang
mulia Nabi Muhammad yang baru hijrah ke Madinah. Rasulullah tiba di Madinah
tepat pada malam hari tanggal 12 Rabi’ul Awwal (menurut al-mas’udi).
Ketika Nabi tiba di Madinah dengan
“dielu-elukan” oleh seluruh penduduk. Semua mata memandanginya dengan penuh
kerinduan seolah memandang sang kekasih hati. mereka semua membuka pintu-pintu
rumah, berharap Nabi yang mulia itu sudi menginap di tempat mereka.
Kemudian Beliau menunggangi ontanya
keluar. Para pemimpin kota Yatsrib berusaha agar beliau mau berhenti,
masing-masing ingin mendapat kehormatan dijadikan tempat menginap oleh Nabi.
Mereka menghalang-halangi jalannya onta dan memohon “Tinggallah dirumah saya
beserta seluruh perlengkapan Anda, wahai Rasulullah. Kami akan menjamin
keamanan Anda”.
Rasulullah berkata “Biarkanlah onta ini
berjalan sekehendaknya karena dia diperintah oleh Allah”.
Onta tersebut terus berjalan diikuti
tatapan para penyambut. Bila dia melewati satu rumah, maka pemiliknya merasa
pupus harapan untuk bisa menjadi tuan rumah bagi Rasulullah. Sebaliknya,
pemilik-pemilik rumah berikutnya menanti dengan harap-harap cemas akankah rumah
mereka dipilih oleh Nabi?.
Namun onta tersebut terus berjalan, dan
pada akhrirnya sampailah ia disebuah tanah kosong tempat pengeringan kurma
milik dua anak yatim dari Bani Najjar didepan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, di
situlah ia berhenti dan duduk. Tapi Rasulullah tidak segera turun, tak lama
kemudian si onta bangkit dan berjalan kembali, Rasulullah melepaskan tali
kendalinya. Belum jauh berjalan, dia berbalik dan duduk ditempat semula.
Kemudian Rasulullah bersabda “Disinilah tempatnya, insya Allah”.
Tak terkirakan kebahagiaan Abu Ayyub.
Dia segera mendekati Rasulullah dan menurunkan barang-barang bawaan Beliau.
Rasulullah ternyata tinggal di sebuah
desa yang berjarak dua mil dari Madinah yaitu desa Quba’. Di sini beliau
membangun sebuah masjid Quba’ yang disebuat Allah sebagai “Masjid yang di
dirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama”.
Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua
lantai. Dia bermaksud mengosongkan barang-barangnya di lantai atas agar bisa di
tempati oleh Rasulullah. Namun Rasulullah memilih tinggal di lantai bawah
sehingga Abu Ayyub menuruti saja kehendak beliau.
Abu bakar bin Abi Syaibah, Ibnu Ishaq
dan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari beberapa sanad dengan lafadz yang
hampir bersamaan, bahwa Abu Ayyub berkata: ketika Rasulullah tinggal di
rumahku, Beliau menempati bagian bawah rumahku, sementara aku dan Ummu Ayyub di
bagian atas. Kemudian aku katakan kepadanya, “Wahai Nabi Allah, aku tidak suka
dan merasa berat engkau berada di bawahku. Naiklah engkau keatas dan biarlah
kami turun ke bawah”. Tetapi Nabi menjawab, “Wahai Abu Ayyub, biarkan kami
tinggal di bagian bawah, agar orang yang bersama kami dan orang yang ingin
berkunjung kepada kami tidak perlu bersusah payah”.
Ketika malam, Rasulullah beranjak
keperaduannya, sementara Abu Ayyub dan istrinya naik ke lantai atas. Setelah
menutup pintu, berkatalah Abu Ayyub “Istriku apa yang kita lakukan ini?
Rasulullah berada di bawah dan kita di atasnya? Patutkah hal seperti ini? Kita
berada diantara Nabi dan wahyu yang akan turun kepada beliau.
Semalaman kedua suami istri ini gelisah
dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka menyingkir dari tengah-tengah
ruangan yang diperkirakan Rasulullah tidur di bawahnya. Bila hendak pergi ke
sisi ruangan yang lain, mereka berjalan menempel dinding karena tak ingin
berjalan di atas Rasulullah.
Pagi harinya Abu Ayyub berterus terang
kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, demi Allah semalam suntuk saya tidak
dapat memejamkan mata, demikian pula dengan Ummu Ayyub”. Nabi bertanya “Apakah
sebabnya wahai Abu Ayyub?”.
“Saya teringat betapa saya berada
diatas sedangkan Anda dibawah. Bila saya bergerak, maka debu-debu akan rontok
dari atas dan menggangu anda. Di samping itu saya berada diantara wahyu dan
anda”. Rasulullah menenangkan “Tenanglah wahai Abu Ayyub, sesungguhnya aku
merasa lebih enak berada di bawah, karena nantinya akan banyak tamu
berdatangan”.
Selanjutnya Abu Ayyub menceritakan:
Demikianlah Rasulullah tinggal di bagian bawah sementara kami tinggal di bagian
atas. Pada suatu malam yang dingin, kendi tempat air minum Abu Ayyub pecah dan
airnya membasahi lantai maka segeralah ia dan ummu ayyub membersihkan air itu
dengan selimut satu-satunya itu, agar air itu tidak menggangu beliau.
Keesokan harinya aku turun kepadanya
seraya berkata “Demi ayah bundaku, wahai Rasulullah, benar-benar saya tidak
bisa tinggal di atas anda”. Ku ceritakan soal kendi yang pecah itu. Beliau
akhirnya menerima alasanku dan bersedia pindah keatas.
Pada kesempatan yang lain Abu Ayyub
menceritakan: Kami biasa membuatkan makan malam untuk Nabi. Setelah siap
makanan itu, kami kirimkan kepada beliau. Jika sisa makanan itu di kembalikan
kepada kami, maka aku dan ummu ayyub berebut bekas tangan beliau dan kami makan
bersama sisa makanan itu untuk mendapatkan berkat (tabarruk) beliau.
Pada suatu malam kami mengantarkan
makan malam yang kami campuri dengan bawang merah dan bawang putih kepada
beliau, tetapi ketika makanan itu di kembalikan oleh Rasulullah kepada kami,
aku tidak melihat adanya bekas tangan yang menyentuhnya. Kemudian dengan rasa
cemas aku datang menanyakan, “Wahai Rasulullah, engkau kembalikan makan
malammu, tetapi aku tidak melihat adanya bekas tanganmu. Padahal setiap kali
engkau mengembalikan sisa makananmu, aku dan ummu ayyub selalu berebut pada
bekas tanganmu karena ingin mendapat berkat”. Nabi menjawab “Aku temui makanan
itu bau bawang, padahal aku senantiasa bermunajat (kepada Allah). Tetapi untuk
kalian makan sajalah”. Abu Ayyub berkata : Lalu kami memakannya. Setelah itu
kami tidak pernah lagi menaruh bawang pada makanan beliau.
Nabi tinggal di rumah Abu Ayyub selama
sekitar tujuh bulan, yaitu sampai masjid di atas tanah yang diduduki onta
beliau selesai dibangun. Selanjutnya Beliau dan para istrinya tinggal di
bilik-bilik di sebelah masjid. Beliau menjadi tetangga Abu Ayyub, tetangga yang
menyebabkannya memperoleh kemuliaan dan keutamaan.
Abu Ayyub mencintai Rasulullah dengan
cinta yang menyita segenap akal dan hatinya. Rasulullah mencintai Abu Ayyub
dengan cinta yang menghapuskan dinding pemisah antara Abu Ayyub dan dirinya
karena Rasulullah menganggap rumah Abu Ayyub seperti rumahnya sendiri.
Berkisah Ibnu Abbas:
Pada suatu siang yang terik, Abu Bakar
keluar dari rumahnya menuju ke masjid. Umar melihat lalu menyapanya, “Wahai Abu
Bakar, apa yang menyebabkan anda keluar rumah pada siang seterik ini?”. Jawab
Abu Bakar, “Aku tidak akan keluar rumah kalau tidak di dorong oleh rasa lapar
yang menggigit”. Umar menimpali. “Aku pun demi Allah tidak keluar kecuali
karena sebab yang sama”.
Saat mereka berdua bercakap-cakap.
Rasulullah datang seraya bertanya. “Apa yang menyebabkan kalian keluar rumah
pada saat sepanas ini?”. Keduanya menjawab “Demi Allah, perut yang perih karena
laparlah yang memaksa kami keluar”. Kata Nabi. “Demi jiwaku di tangan Nya,
tidak ada pula yang mengeluarkan diriku dari rumah kecuali itu juga. Mari
ikutlah aku”.
Mereka bertiga berjalan sampai di depan
pintu rumah Abu Ayyub. Setiap hari memang Abu Ayyub biasa menyediakan makanan
untuk Rasulullah. Bila pada waktu-waktu makan beliau tidak juga datang, baru
Abu Ayyub memperbolehkan keluarganya memakannya.
Ummu Ayyub membuka pintu lalu
mengucapkan salam. ‘Selamat datang wahai Nabi dan saudara-saudara”. Rasulullah
bertanya, “Dimana Abu Ayyub?”. Saat itu Abu Ayyub sedang mengurus pohon
kurmanya di samping rumah. Mendengar suara Nabi, dia segera menyongsong.
“Selamat datang, Wahai Rasulullah dan saudara-saudara”. Lanjutnya, “Wahai
Nabiyullah, bukan kebiasaan Anda datang pada waktu-waktu separti ini”. Nabi
membenarkan. “Engkau benar”.
Abu Ayyub kemudian memotong setandan
kurma yang berisi tamar, rutab, dan busr (rutab adalah kurma yang sudah masak,
sedangkan busr adalah yang masih separuh masak). Rasulullah berkata, “Janganlah
engkau memotong tandan yang begini. Sebaiknya ambillah tandan yang sudah
sempurna”. Kata Abu Ayyub, “Wahai Rasulullah, saya ingin Anda makan tamar-nya,
rutab-nya, dan busr-nya juga. Saya pun akan menyembelih kambing untuk Anda”.
Pesan Rasulullah, “Janganlah engkau menyembelih kambing yang sudah mengeluarkan
susu”. Abu Ayyub memilih seekor anak kambing yang berumur setahun. Setelah
menyembelihnya, ia berkata kepada istrinya. “Buatlah adonan untuk roti, engkau
lebih mengerti cara membuat roti. Untuk kambingnya, masaklah yang separuh dan
bakarlah yang separuh lainnya”. Setelah masak, roti, kuah, dan kambing segera
dihidangkan. Rasulullah mengambil sepotong daging dan menaruhnya di dalam roti
seraya berkata, “Wahai Abu Ayyub, tolong antar roti dan daging ini ke rumah Fathimah.
Dia juga sudah beberapa har ini tidak makan sesuatu”.
Setelah mereka semua kenyang, Nabi
berkata. “Roti, daging, tamar, rutab, dan busr”. Kedua mata beliau berlinangan
ketika melanjutkan, “Demi jiwaku di tanganNya, inilah yang disebut nikmat, yang
akan kalian pertanggungjawabkan kelak pada hari kiamat. Bila kalian menghadapi
hidangan seperti ini dan akan menyantapnya, bacalah basmalah dan bila sudah
kenyang ucapkan Al-Hamdulillahilladzi huwa asba’anaa wa an’ama ‘alaina fa
afdhala (Segala puji bagi Allah yang memberi kami makan sampai kenyang dan
memberi karunia yang sebaik-baiknya)”.
Rasulullah lalu bangkit dan berpesan
kapada Abu Ayyub. “Besok datanglah ke tempatku”. Sudah menjadi tabiat luhur
Rasulullah bahwa tak seorang pun berbuat baik kepada beliau kecuali segera di
balas dengan kebaikan yang lain. Abu Ayyub segera berkata “Saya akan datang
besok ya Rasulullah”.
Keesokan harinya pergilah Abu Ayyub ke
tempat Rasulullah. Beliau ternyata menghadiahinya seorang pembantu rumah
tangga, seraya berpesan “Perlakukanlah anak ini dengan baik di rumahmu Abu
Ayyub. Kami tidak pernah mendapati pada dirinya selain sesuatu yang baik selama
di rumah ini”.
Abu Ayyub pulang bersama anak belia
itu. Ummu Ayyub keheranan melihatnya, maka ia bertanya. “Untuk siapa anak ini,
Abu Ayyub?”. Jawab Abu Ayyub “Untuk kita. Hadiah dari Rasulullah”. “Sebuah
hadiah yang paling berharga”, komentar Ummu Ayyub. Abu Ayyub melanjutkan.
“Beliau berpesan agar kita memperlakukan anak ini dengan sebaik-baiknya”.
Ummu Ayyub berpikir-pikir, “Kebaikan
apa yang bisa kita lakukan terhadapnya untuk melaksanakan pesan Rasulullah
itu”. Kedua suami istri itu terdiam untuk beberapa saat sampai akhirnya Abu
Ayyub berkata, “Demi Allah aku tak mungkin melaksanakan pesan itu lebih baik
dari memerdekakan anak ini”. “Engkau telah mendapatkan petunjuk kebenaran!
Engkau mendapatkan taufik!”. Ummu Ayyub kegirangan. Anak kecil itu pun
dimerdekakan oleh mereka.
Rangkaian kisah di atas adalah mengenai
kehidupan Abu Ayyub dalam suasana damai. Bila anda sempat mengetahui sebagian
hidupnya dalam peperangan, niscaya anda akan menjumpai hal-hal yang
menakjubkan.
Sepanjang hidupnya Abu Ayyub adalah
seorang mujahid yang aktif. Perang terakhir yang diikutinya adalah penaklukkan
konstantinopel. Muawiyah saat itu mengirimkan pasukan yang di pimpin oleh
putranya sendiri, Yazid.
Pada masa itu Abu Ayyub adalah seorang
lanjut usia yang berumur 80-an, sehingga Abu Ayyub tidak dapat lama bertempur.
Dia menderita sakit yang mengharuskannya istirahat. Yazid sebagai panglima
menjenguk dan bertanya, “Adakah Anda memerlikan sesuatu, Abu Ayyub?”. Dia
menjawab, “Sampaikanlah salamku kepada seluruh kaum muslimin….”.
Abu Ayyub juga berpesan agar pasukan
terus maju ke daerah musuh dan membawanya bersama mereka. Bila nanti dia wafat
di medan perang, hendaknya jenazahnya dibawa dan dimakamkan di bawah dinding
konstantinopel.
Tak lama setelah itu, Abu Ayyub pun
wafat. Pasukan muslimin melaksanakan amanat sahabat Rasulullah ini. Mereka
terus bertempur dengan gagah berani. Ketika mencapai dinding batu
konstantinopel mereka memakamkan jenazah Abu Ayyub dibawahnya.
Referensi:
-
Aziz’s blog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar